SULTAN AGUNG
Nama aslinya adalah Sulta Agung Hanyokro-kusumo yang lahir di kota Jogyakarta.
Ditahun 1613 pada usianya genap dua puluh tahun sudah diangkat menjadi raja Kerajaan Mataram. Bisa dikatakan seluruh pulau jawa dibawah kekuasaannya dan melakukan hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lainnya.
Disaat kejayaan Sulta Agung bersamaan pula waktu itu kompeni Belanda mulai menguasai daerah-daerah di Indonesia seperti Jakarta dan terus berusaha mempeluas jaringan kekuasaan.
Nampaknya Sulta Agung harus melakukan tindakan atas gerilya yang dilakukan oleh kompeni Belanda. Mulailah Sultan Agung memperbesar pasukan dan memperkuat angkatan perangnya guna melawan Belanda.
Pada tahun 1628 dilakukannya serangan pertama terhadap Belanda oleh Sultan Agung yang didukung juga para pemimpin panglima perang lainnya. Akan tetapi serangan ini berakhir dengan kegagalan dikarenakan pasukan Belanda dengan cepat dapat mendatangkan bala bantuan.
Kemudian Sultan Agung tidak pantang menyerah, dilakukannya kembali serangan yang kedua pada tahun 1629 yang mana pasukan Mataram bergerak ke Jakarta (pada saat itu Batavia namanya). Persiapan Sulta Agung kali ini lebih baik dari yang sebelumnya. Lalu kota Batavia bisa dikepung dengan ketat. Dimana senjata-senjata maupun meriam-meriam Mataram menghujani benteng pertahanan Belanda. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama dikarenakan pada saat itu terjadinya wabah penyakit sehingga banyak pasukan Mataram terjangkit wabah penyakit tersebut akhirnya pada meninggal dunia. Belanda pun sembari membakar tempat-tempat penyimpanan makanan para pasukan Mataram, sehingga serangan kedua ini gagal lagi.
Lalu Sulta Agung mundur kembali ke Mataram dan disini memperkuat pertahanannya serta memakmurkan rakyatnya. Sulta Agung menunggal dunia tahun 1645. Sebelum akhir hayatnya Sulta Agung berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan. Dan jenazahnya dimakamkan di pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.